01 May 2017

Traveling Berdua Anak itu Lebih dari Sekedar Jalan-Jalan

Sama seperti kata pepatah bahwa gunung biasanya mengungkap sifat asli seseorang, sebuah perjalanan pun biasanya dapat membuat kita lebih mengenal satu sama lain. Jadi, apa yang lebih baik daripada traveling berdua anak, terutama untuk mama bekerja seperti saya. 

Traveling berdua anak... eh, bertiga sama boneka Panda itu.
Partner traveling saya adalah seorang anak laki-laki yag gila zombie. Kita sering traveling berdua. Kalaupun akhirnya ada ketempelan teman dan saudara, kita selalu punya momen yang kita melipir kabur berdua saja. Soalnya, di tengah rutinitas yang semakin sibuk, traveling berdua bagi saya adalah cara untuk bonding dan membangun kenangan bersama Dudu.

Traveling hanya berdua anak, apa tidak dua kali lebih repot? Well, sebenarnya, buat saya justru lebih mudah karena kita tidak melulu harus kompromi tujuan wisata karena toh si anak akan mengikuti saja. Tidak perlu sungkan kalau nyasar, tidak perlu dilemma kalau mau pergi ke tujuan wisata dan tidak pusing menyusun itinerary. Komprominya lebih ke jadwal makan dan tidur siang haha. Setelah anak besar, mungkin ada negosiasi sedikit di sini dan di sana. Misalnya ketika saya merencanakan trip ke Korea, Dudu yang fans berat zombie ini minta mencoba naik KTX ke Busan. 

Coba tanya Vita Masli bagaimana rasanya ngetrip berdua teman.

Saya dan Dudu lebih sering pergi backpackeran. Naik pesawat budget, nginep di hostel, jajan di pinggir jalan, jalan kaki dan naik transportasi umum ke mana-mana. Jaman di Amerika dulu lebih extreme sih, kita sering roadtrip berdua, tanpa booking hotel, lalu begitu gelap kita belok ke motel terdekat. Jaman masih pakai peta dan belum ada GPS jadi ya tinggal di penginapan seadanya, yang penting chain motel dan tidak terlihat seram. Tambah repot dong? Well, ini triknya:

Pergi Backpacker berdua anak, mulai dari mana?

Waktu anak masih batita, tantangan terbesar adalah packing karena masih ada popok, tisu basah, stroller dan lain sebagainya. Biasanya saya bawa popok secukupnya dan menyediakan lebihan uang untuk beli di jalan. Okelah kalau ke Singapore atau Eropa memang harga popok bikin nangis, tapi karena backpackeran berdua balita tidak bisa bulky, jadi mau tidak mau memang kita harus menyisihkan yang lebih. Soalnya selain bawa koper, kita juga bawa si bayi. Waktu Dudu bayi sih saya lebih sering road trip. Kalau kita tidak banyak pindah tempat tinggal, saya akan bawa baju lebih sedikit dan popok lebih banyak haha. Soalnya stok popok bisa ditinggal di hostel. Tantangan berikutnya adalah jam tidur yang sedikit merepotkan. Jadi kalau backpackeran sama anak jangan ngotot memaksakan jadwal dan target. 
Dorongan jadi stroller dadakan.
Umur segini enakan road trip karena bisa bawa stroller haha.

Di usia balita, backpacking lebih gampang karena anak sudah lebih besar dan bebas popok. Apalagi anak usia SD sudah bisa diminta bantu bawa barang dan tarik koper. Sepertinya rentang usia balita hingga sekitar 8 tahun ini paling asyik karena mereka banyak energy dan semangat pergi. Apalagi Dudu yang memang suka outdoor, jadi backpacker yang pakai pindah-pindah hostel pun oke. Masalah yang timbul paling ketika tidak semua hostel mau menerima tamu-tamu cilik, padahal reviewnya bagus-bagus dan terlihat layak untuk ditinggali bersama anak. Alasan utamanya ya karena anak-anak bisa berisik dan mengganggu tamu-tamu lain. Kalau sudah begini harus keluar uang sedikit lagi untuk budget hotel. Untungnya karena hanya berdua anak balita, tempat tidur dan kamar yang sempit pun tidak jadi masalah.

Di usia pra-remaja, backpacking mulai repot lagi karena anaknya sudah bisa negosiasi. Sekarang saya sedang mengalami masa-masa dimana selain harus berdamai dengan jadwal libur sekolah si anak (yang berarti harga tiket dan penginapan lebih mahal), saya juga harus bernegosiasi tujuan travelling. Untungnya, permintaan membawa tamu kecil ke hostel backpacker jadi lebih mudah karena anak pra-remaja biasanya lebih tenang dan lebih bisa dikasih tahu daripada yang balita. Di usia ini juga enak karena anaknya sudah tidak terlalu merepotkan, lebih kuat jalan kaki jauh dan sudah tidak ada jam tidur siang yang mengganggu. 

Selain hemat budget, pergi ala backpacker sama anak juga mengajarkan banyak hal.

Mandiri

Kita sering pergi backpackeran dan menginap di hostel. Masalahnya muncul ketika meskipun menginap di lantai yang mix, kamar mandi Cowok ada di lantai yang berbeda. Tahun lalu ketika ngetrip berdua, saya sempat was-was karena setiap mau mandi atau buang air, Dudu harus turun satu lantai dengan membawa kunci elektronik. Jadi misal kita tinggal di lantai 4, Dudu mandi di lantai cowok di bawah. Lalu untuk naik kembali ke lantai 4 dia harus membawa kunci elektronik untuk membuka pintu koridor (alasan keamanan sih ini biar orang yang tidak tinggal di situ tidak bisa sembarangan masuk keluar). Meskipun dia selalu kembali dengan selamat, tapi tetap saja was-was takut kunci hilang, baju gantinya jatuh lalu basah. Untungnya dia berhasil mandiri.

Belajar mandiri dengan backpacking: Tempat tidur sendiri dan loker sendiri

  

Tanggung Jawab

Pergi naik pesawat budget berarti tidak ada bagasi dan tidak ada makanan. Karena itu anak jadi belajar bertanggung jawab dengan barang bawaannya. Ketika pergi backpacking ke Eropa beberapa waktu lalu, kita pindah-pindah Negara menggunakan pesawat budget local tanpa bagasi. Karena setiap orang bawa satu koper maka Dudu juga kebagian bertanggung jawab akan kopernya. Mulai dari membawa sendiri ke airport, melewati x-ray hingga mengangkat masuk ke pesawat. Begitu juga dengan di hostel, karena kamar mandi kita berbagi, maka Dudu terbiasa membawa 1 tas dengan isi peralatan mandi dan sikat gigi yang harus dia bawa kembali ke kamar. Dia juga belajar menjemur handuk dan merapihkan barang-barangnya karena kita berbagi kamar dengan orang lain. 

Inisiatif
Saya tipe yang malas bertanya, nyasar kemudian. Lalu kalau nyasar ya sudah kita cari jalan sendiri. Untungnya partner travelling saya ini senang ngobrol dan senang bertanya. Jadi kalau pergi sama dia, pasti dia yang tanya arah jalan dan lokasi tujuan. Ini juga berlaku untuk harga tiket kereta dan masuk atraksi. Dia juga senang membaca peta (termasuk peta subway), jadi saya tidak khawatir jalan berdua tanpa ikut tur. Dari backpacking, Dudu belajar banyak inisiatif seperti bawa air minum sendiri, bertanya saat Mamanya terlihat bingung, membantu membawakan koper dan tidak menduduki kursi prioritas di transportasi umum.

Traveling berdua sebenarnya lebih enak daripada pergi dengan grup besar. Tapi kalau saya bilang begini, saya pasti ditimpuk banyak orang. Haha.


3 comments:

  1. Gara-gara nonton The Return of Superman aku pengen suatu saat nanti bisa pergi traveling berdua aja sama anak. Begitupula suami yang berdua jalan2 sama anak. Pokoknya salah satu harus dapet jatah me time hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Me time itu penting lho. Aku pernah kok pas lagi di Rotterdam, anak titip ke adikku, trus aku muter sendiri sambil shopping haha.

      Delete
  2. Jadi iri nih sma mbak ruth...
    pengen nyoba travelling ber2 anak, seru kali ya...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.