28 November 2016

Cerita Rumah Idaman Generasi Philips Hue

“Jika rumahku menggunakan Philips Hue, aku mau mengubah warna lampunya dengan tema game atau filmnya. Jadi misalnya aku nonton Smurfs, akan ku ubah warnanya menjadi biru biar ada sensasinya. Bukan cuma Smurf, Trolls, Transformers, film Zombie dan lain-lain. Juga karena Omaku suka tidur sebelum matikan lampu, kalau ada Philips Hue bisa mati otomatis dan kita tidak akan membuang-buang listrik.” – Dudu, 10 tahun




Bicara Philips Hue dengan Dudu, yang kalau menurut istilah sekarang adalah seorang digital native, memang tidak ada habisnya. Dari lahir sudah connect to wi-fi. Philips Hue juga begitu. Philips Hue adalah sistem pencahayaan terkoneksi yang memungkinkan kita bermain dengan warna menggunakan teknologi yang ada. Inovasi terbaru lampu Philips Lighting ini sebenarnya sudah dikenal pasar luar negeri selama 2 tahun, dengan 5.6 juta lightpoints di seluruh dunia, namun Philips Hue di Indonesia baru memasuki pasar di minggu lalu.


Lewat Philips Hue, hadir arti lebih dari cahaya. “Kita membuat produk yang bisa terkoneksi internet. Exciting karena lampu bukan hanya putih dan kuning, dan bisa accessible from anywhere. Produknya juga mudah digunakan, kalau ada apa-apa tidak udah panggil tukang,” jelas Indah Suzanti, Product Marketing Home, PT Philips Indonesia, yang akrab dipanggil Susan ini. Susan hadir bersama Ario Pratomo seorang pengusaha dan tech vlogger di acara Blogger Gathering Philips Lighting Week 2016 di Senayan City Jakarta pada tanggal 19 November 2016 kemarin.

Dudu yang tadinya menunggu di coffee shop jadi tertarik bergabung ke acara bertema “Connected Home Lighting System” ini. Soalnya banyak yang bisa dieksplorasi. 






“Mama memberiku passport dan itu bisa di cap selama berkeliling. Aku mencoba bermain drum, katanya kalau dapat 20,000 poin aku akan dapat lampu Philips. Aku mencoba kuat sekali tapi Cuma dapat 11,050 poin. Aku merasa sedih, aku sangat mau dapat lampu itu. Aku pun berkeliling mengisi passport.” (Yang mau baca tulisan lengkap si Dudu tentang acara ini bisa ke blognya ya).

Banyak keunggulan Philips Hue yang bisa membuat kita menyadari pentingnya pencahayaan dalam kehidupan kita sehari-hari. Philips Hue bisa menghasilkan 16 juta warna dan “karena sudah jaman internet, semuanya bisa dikontrol dengan sentuhan jari,” ujar Susan. “Philips Hue juga merupakan personal wireless lighting jadi sudah tidak menggunakan kabel.” Instalasinya juga mudah. Ario mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja untuk memasang Philips Hue di rumahnya. “Bridge ditaro di sebelah router, kabel LAN tinggal dipasang. Kabel LAN sudah dapat (dari Philips Hue) by the way. Bisa beberapa device juga (yang terkoneksi) nih, jadi bisa bertengkar dengan orang rumah,” ceritanya sambil tertawa, lalu menambahkan bahwa “kondisi internet untuk mengatur Philips Hue tidak harus cepat, tapi harus stabil.” Penggunaannya pun mudah, soalnya Dudu sudah mencoba mengendalikan lampu lewat apps di bagian Future Liiving yang ada di bagian belakang area Philips Lighting Week 2016.

Life starts with Hue

Ario memasang Philips Hue di ruang kerja. Alasannya, “center of life-nya di situ. (Saya jadi tahu) bagaimana mengatur lampu untuk bekerja. Awalnya lampu saya kuning, tapi ternyata untuk kerja atau membaca, itu kurang.” Lalu LED strip yang panjang ditata di belakang TV. “Kalau gelap terus TV menyala langsung, bisa sakit matanya. Jadi dengan adanya LED strip itu, mata bisa transisi dengan lebih enak,” jelasnya.





 Berubah warna bisa merubah mood. Seru kan kalau menulis di sini.


Kalau tempat ngeblognya pindah-pindah, bisa beli Hue Go yang portable ini
Kalau saya? Jika rumah saya menggunakan Philips Hue, saya ingin taruh LED Strip di pintu yang menghubungkan ruang makan dengan halaman belakang. Soalnya ruang makan saya semi-outdoor dan kalau hujan turun, duduk di meja makan sambil menulis adalah hal yang paling menyenangkan. Dan, menurut Susan, Philips Hue mampu memberikan suasana lebih hanya dengan upload foto sesuai ambiance yang kita inginkan. Coba bayangkan kalau kita bangun sebelum matahari terbit, duduk ditemani lampu Philips Hue yang berubah-rubah seiiring dengan terbitnya matahari. Dijamin menulis buku juga langsung selesai haha.

Lalu saya juga mau pasang di bagian depan rumah. Life starts with Philips Hue. Akan menyenangkan rasanya ketika kita pulang dan lampu Philips Hue menyala menyambut kepulangan kita. “Pulang ke rumah yang gelap kan takut mau masuk rumah,” cerita Susan. “Nah, Philips Hue bisa mendeteksi si pemilik sudah dekat rumah, jadi lampunya bisa menyala.” Rasa aman juga bisa diberikan lampu yang bisa berubah-ubah ini karena sebagai orang yang sering travelling dan pulang malam meninggalkan rumah kosong, lampu yang bisa berubah dapat memberikan rasa aman dengan ilusi warna dan cahaya.



Philips Lighting Week 2016


Dudu paling senang mengatur lampu dari terang dan gelap.
Seperti di bedroom ini, padahal LED stripnya tetap merah tapi suasana kamar jadi berbeda.

Orang tua saya, meskipun kagum, belum paham betul tentang Philips Hue meskipun Dudu sudah cerita panjang lebar, soalnya buat Papa yang umurnya beda tipis dengan Indonesia itu, lampu ya bentuknya bohlam dan harus diganti ketika putus atau ingin ganti suasana. Karena adik-adik saya tinggal di luar negeri semua, maka tugas mengganti lampu diserahkan pada saya. Memang kami pakai lampu Philips LED di rumah, jadi saya tidak perlu naik turun tangga sering-sering, tapi Papa yang punya passion terpendam jadi interior desainer suka tiba-tiba ganti lampu. “Yang di kamar kamu sepertinya enak pakai kuning ya?” “Yang di ruang makan ganti putih deh biar terang, eh ganti kuning lagi biar tidak terlalu silau kalau dinyalakan malam hari.”

Kalau di rumah pakai Philips Hue, saya tinggal install apps nya dan Papa bisa mengatur sendiri cahaya rumah sesuai keinginan hatinya. Mama yang matanya mulai rabun bisa tenang dengan lampu yang bisa menyambutnya masuk ke rumah ketika hari gelap. Dudu bisa lebih seru lagi ketika menonton film atau main game favoritnya. Inovasi lampu Philips adalah awal sebuah rumah idaman saya. 





Ibarat lampu, Papa dan Mama saya termasuk lampu generasi lama yang saya kenal ketika beranjak dewasa, lalu saya ini generasi SceneSwitch yang bisa berubah kuning-putih, dan Dudu adalah generasi Philips Hue. Bagusnya apa lampu ini, tanya kedua orang tua saya? Jawaban Dudu, “Lampu Philips Hue bisa dimatikan dan dikasih warna lewat app. Jadi, kalau aku lupa matikan lampu, aku tidak akan dimarahi lagi, karena Philips Hue bisa dimatikan dari tabku meskipun kita sudah sampai Bandung.”

1 comment:

  1. budget nya gede gak nih mbak? bagus deh

    salam
    gabrilla

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.