12 June 2016

Memahami Ide Stimulasi Usia Dini lewat Indonesia Montessori

Sebagai seseorang yang sudah bolak balik menulis artikel tentang pendidikan anak usia dini, saya termasuk awam tentang konsep Montessori. Apalagi anak saya sudah mau naik kelas 5 SD, dan Montessori yang saya kenal kerap identik dengan anak balita. Penasaran tapi bingung mau cari tahu dari mana. Sampai suatu hari, sebuah undangan launching buku dari founder Indonesia Montessori mendarat di kotak surat saya. 



Dikenal dengan nama Mom C, Elvina Lim, mendirikan Indonesia Montessori dari Amerika. Mengasuh anak tanpa pembantu membuatnya jadi kreatif. Montessori ala Mom C adalah yang bisa dilakukan di rumah. Bukan berarti anak tidak boleh sekolah di luar. Tapi tidak semua anak mempunyai akses dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan usia dini yang memadai. Nah, anak-anak bisa belajar dengan Montessori di rumah. Kalau yang sekolah PAUD di luar? Ya sepulang sekolah bisa melakukan Montessori ini. Membolak-balik bukunya, saya jadi paham. Montesorri di rumah ala Mom C ini seperti bermain dengan alat-alat yang bisa ditemukan di sekitar kita dan dalam kegiatan sehari-hari.
“70% adalah Montessori-based,” kata Mom C di talkshownya. The Hall Senayan City hari Sabtu 4 Juni itu penuh dengan Montessori moms, dads and enthusiasts. “30% sisanya adalah hal-hal yang merupakan stimulasi, yang saya anggap baik, dan pernah saya posting di social media. Intinya, Indonesia Montessori ini dibentuk agar bisa cari ide dan sharing inspirasi.”



Mendengarkan percakapan Mom C dengan MC di panggung saya jadi kangen sama Amerika haha. Soalnya, sama seperti C, Dudu juga dari kecil sudah membantu pekerjaan rumah tangga. Ya soalnya kan saya di pedalaman Amerika itu hanya tinggal berdua saja. Dudu pasti ikut bantu cuci baju, bantu masak spaghetti dan bantu membereskan mainan sendiri. Ada masanya ketika saya dan teman teman kuliah saya pergi makan di Casino kota sebelah (haha) dan Dudu duduk manis di kursi anak sambil mengemil Cherios pakai tangan. Tanpa disadari, kegiatan simple macam makan sereal pakai tangan begini termasuk kegiatan stimulasi yang baik bagi anak. Kalau istilah Mom C, “fondasi atau ketrampilan hidup. Jadi kalau mau mempelajari hal lain lebih mudah. Membantu pekerjaan rumah itu melatih motorik dan percaya diri anak.”

Contoh kegiatan Montessori di rumah:

  • Menuang air dari botol ke gelas
  • Cuci tangan (yes, as simple as this)
  • Sorting bola kapas berwarna dengan capitan
  • Memindahkan telur dari satu mangkuk ke mangkuk lain
  • Mencuci gelas dan peralatan makan
  • Menata bunga
  • Mengupas buah
Kalau sekolah, anak biasanya fokus. Kalau di rumah bagaimana belajarnya? “Suasana di rumah harus kondusif, kalau tidak nanti tidak maksimal karena anak tidak bisa fokus,” begitu saran Mom C. Beda anak juga beda cara belajar meskipun konsep yang diajarkan sama. Misalnya belajar besar dan kecil, anak yang masih batita mungkin hanya membandingkan benda, tapi anak yang lebih besar bisa dengan menggambar ataupun dengan angka. Belajarnya bisa disesuaikan dengan sensitif period setiap anak, di mana dia menyukai satu kegiatan dan akan dilakukan berulang-ulang. Nah, tugas orang tua adalah mengobservasi kapan sensitif period ini datang karena setiap anak berbeda-beda tumbuh kembangnya.



Salut sama Mom C yang bisa mengurus anak sendiri tanpa helper, bisa kuliah sesuai passion juga dan bisa menulis buku sambil mengembangkan Indonesia Montessori. Bukunya recommended banget untuk yang punya anak balita. Terbukti acara kemarin seru banget. Ada pojok IKEA yang membebaskan kita menggambar kuda dan mewarnainya dengan crayon dan spidol super empuk. Wajib dibeli kayaknya nih kalau pas ke IKEA. Saya dan Dudu jadi betah berlama-lama menggambar kuda. Lalu ada pojok puzzle dan menjahit dari Erlangga. Dudu yang malu ikutan duduk karena rata-rata di situ usianya masih bayi, menjahit sambil berdiri. Ada booth Bebelac, inflatable playground dari Dettol dan booth lainnya yang menjual mainan kreatif. Satu mainan slime menarik perhatian saya. Sayang kita di rumah bath tubnya rusak, padahal Dudu sudah semangat mau bermain sambil mandi. 




Pulang selain bawa barang, kita juga bawa tambahan pengetahuan. Kalau kata Dudu “It was so much fun!” dan unexpected karena pas hadir kita pikir acaranya hanya untuk anak balita. Ternyata kita berdua bisa betah dan ngedate juga. Thank you so much Mom C and Erlangga for inviting us to the event. The book launch satisfied more than just my curiousity on Montessori, it provided us with a fun Saturday morning date.

Jangan lupa beli bukunya di toko buku terdekat atau cek cara belinya di website Indonesia Montessori

6 comments:

  1. melatih anak untuk mandiri juga, nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget. Anak jadi mandiri juga.

      Delete
  2. Jadi penasaran sama bukunya.recomended meski bukan untuk balita ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aktivitas yang ada di bukunya sih untuk Balita Mom, soalnya kan anaknya Elvina masih balita. Tapi bisa di modifikasi untuk yang usia lebih besar dengan tanggung jawab dan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Misalnya mengajak anak membantu menyiapkan peralatan meja makan (kan piring beling) gitu.

      Delete
  3. Aku juga udah beli nih bukunyaaa

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.