09 February 2016

16 Jam di Gajayana

Ketika mengiyakan ajakan teman untuk naik kereta api Gajayana ke Malang, saya sebenarnya sedang impulse buying. Alias nekat beli tanpa mikir. Soalnya selain belum pernah naik kereta api, termasuk yang eksekutif, saya juga tidak paham fasilitas apa saja yang ada di Gajayana. Untungnya, 16 jam perjalanan Jakarta-Malang bukan seperti baju mahal yang sampai rumah kita sesali. It’s one fun, unforgettable adventure.


Seminggu sebelum berangkat, teman saya bertanya “16 jam di kereta, anak-anak mau disuruh ngapain ya?” Jujur, saya juga blank. Gadget juga ada batasnya kan. Apalagi si Dudu yang kalau sudah bosan, gadget juga bisa diabaikan begitu saja. Dan itu awal dari serentetan pertanyaan berikutnya seperti “Makan malam dan makan pagi gimana ya?” Nah lho. Saya juga belum pernah deh naik kereta api selama itu.


Kami berkumpul di Stasiun Gambir jam 5 sore. Tiket yang sudah dipesan lewat online harus diprint kembali di stasiun. Harga tiket kereta api Gajayana Jakarta-Malang sekitar Rp500,000an. Karena perjalanan kali ini menggunakan travel agent, maka rombongan kami tinggal masuk dan naik kereta api. Mirip dengan pesawat, kami harus mencari peron yang tepat dan masuk ke gerbong yang tepat. Kereta Api Gajayana tujuan Malang. Jangan sampai salah naik kereta nih, karena kereta yang lewat belum tentu kereta kita. Sedikit lebih rumit dari pesawat yang kalau kita sudah di gate yang benar maka kita pasti naik pesawat yang benar juga.

Lalu 16 jam di kereta ngapain? “Bisa jalan-jalan di dalam keretanya, bisa main dan bisa seru-seruan. Bisa main karena kita punya waktu lama sekali untuk bersama teman-temanku,” jawab Dudu enteng. Berangkatnya lebih mudah karena tinggal beli makan malam di stasiun. Jadwal Kereta Api Gajayana Jakarta-Malang sebenarnya cukup enak. Berangkat jam 17.45 dari Gambir. Makan malam, lalu selepas itu (sekitar Cirebon) kita tidur. Bangun pagi sudah dekat Kediri dan jam 9.30an kita sampai di Malang. Pulangnya lebih rumit. Berangkat siang jam 13.30 dan masih banyak waktu tersisa sebelum jam tidur di Jogja. Sampai Gambir jam 4 subuh. Sedihnya, waktu kita ada di Museum Angkut, ada perbandingan bahwa durasi 16 jam KA Gajayana (yang di museum itu disebutkan 11 jam), dapat ditempuh dalam waktu 2 jam oleh Shinkansen. 


interior Kereta Api Gajayana

Naik Kereta Api Gajayana bawa anak

Ketika dalam perjalanan menuju Cirebon, Dudu yang sibuk melihat keluar jendela mendadak berseru, “Wah, macet sekali itu... Eh, itu gara-gara kita lewat ya, Ma?” Yes, yang dilihatnya adalah antrian di palang pintu kereta.

Kenapa pilih kereta?

  • Tempat duduk seperti pesawat dengan legroom yang jauh lebih lega. Kali ini beneran bisa meluruskan kaki. Buat yang pegal, mondar-mandir juga membantu. Aislenya juga lega dan panjang. Buat anak-anak lebih enak karena bisa jalan bolak-balik. 
  • Jangan khawatir kelaparan atau kehausan jika lupa bawa bekal. Ada banyak pramugari penjaja makanan dan minuman yang selalu lewat pada jam makan. Sayangnya tidak ada kopi hitam tanpa gula yang jadi kesukaan saya.
  • Pemandangan lebih indah. Dudu yang senang road trip jadi tidak kangen dengan sawah, jurang dan jembatan. Perjalanan ke Malang melewati banyak sungai, sawah dan pemandangan indah lainnya.
  • Karena naiknya eksekutif, kita dapat bantal, selimut dan kursi yang bisa diputar-putar. Rombongan saya yang terdiri dari 4 orang anak itu seperti dapat tempat bermain sendiri dengan kursi yang berhadapan.
  • Sama dengan pesawat, KA Gajayana ini bebas rokok. Yang mau merokok hanya boleh pas kereta berhenti dan itupun harus turun ke peron. 


Most memorable moment sudah pasti Jakarta - Cirebon karena melihat gedung tinggi berlalu dan perlahan tergantikan oleh rumah yang lebih rendah dan akhirnya hilang sama sekali menjadi sawah. Tidak pernah bosan jika melihat ke jendela. Ketika mendekati Stasiun Malang Kota Lama (atau Kepanjen ya?), keretanya berjalan melewati terowongan, lalu miring-miring diantara perbukitan dan jurang. Kalau kata Dudu seperti adventure di game. Haha. 

Jadi kalau anak kecil mau naik kereta, apa yang harus disiapkan, Du?
“Makanan, minuman karena perjalanannya lama. Bagi yang mabuk, jangan lupa untuk siapkan kantung plastik. Bawa mainan action figure.”

Kalau bicara harga, agak sulit juga karena saya sudah beli tiket ini sejak bulan November. Menurut teman-teman yang sering mudik pakai kereta sih, harga kereta itu makin dekat tanggalnya makin mahal. Beda dengan pesawat yang suka ada promo last minute, kalau kereta memang sebaiknya dibeli sejauh-jauh mungkin dari tanggal keberangkatan.

tempat duduk kereta api Gajayana
Bagian dalam gerbong yang berbeda (atas) Kereta pulang gerbong 8,
 (bawah) kereta berangkat gerbong 3 

Perjalanan kereta kali ini meninggalkan rasa penasaran dengan sistem tempat duduk. Dari dua perjalanan, Jakarta-Malang dan Malang-Jakarta, saya selalu mendapatkan tempat duduk terpisah dengan si Dudu. Dan karena berhenti di tiap stasiun tanpa mengetahui apakah tempat duduk akan terisi sampai stasiun akhir, saya jadi kesulitan mau meminta tukar tempat duduk dengan penumpang lain. Terima kasih ya mba dari Tulungagung yang sudah berbaik hati merelakan tempat duduk windownya diambil Dudu.

Well, anyway, kita sampai di Malang dengan selamat. Tanpa insiden berarti dari anak-anak. Our adventures will continue in Malang. 


(Special Thanks to: Tante Wieny, Om Dimas, Tante Selvi, Om Alam, Tante Linda, Om Bayu, Sheva, Bio, Keisha, Reyhan dan Raka)

6 comments:

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.