29 December 2010

Pelajaran Berharga Tentang Bumi Kita

Semua ini bermula dari semua pertanyaan:

"Ma, global warming itu apa sih?"
Tanya anak saya, Andrew, yang masih berusia 4 tahun setelah nonton film Ice Age. Entah dari mana dia dengar konsep itu, yang jelas, saya bingung menjelaskannya. Akhirnya jawaban saya simpel, "global warming itu kalau buminya rusak karena kepanasan."


Dia sih puas dengan jawaban itu, saya yang jadi tidak puas. Masa sih hanya itu yang bisa saya ajarkan kepada anak saya tentang global warming? Saya terus mencari, apa lagi ya yang bisa saya 'wariskan' pada anak saya ini, yang notabene generasi masa datang? Tinggal di apartment di tengah ibukota membuat semuanya jadi lebih sulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya macet, gedung-gedung yang tinggi menjulang dan langit yang kerap menghitam karena polusi. Kemarin, kesempatan tersebut datang bersama dengan pulangnya kedua adik saya dari kuliah di luar negeri. Kami sekeluarga pergi mengunjungi pulau Belitung.

Pelajaran #1: Deforestasi vs Reboisasi

Sebelum mendarat pun, Andrew sudah semangat melihat ke
jendela. "Laut, Ma, laut!" "Pulau, Ma, pulau!" teriaknya memberikan laporan pandangan mata tentang apa yang ada di bawah sana. Mendekati Belitung, Andrew semakin semangat. "Ma, ada hutan! Gede banget! Pasti banyak monyetnya ya!"
Maklum saja, itu pertama kalinya anak saya melihat hutan. Lalu, dahinya berkerut, berpikir, "Ma, kenapa di Jakarta ngga ada hutan ya? Pantesan di Jakarta ngga ada monyet." Yah, memang. Banyaknya hutan yang ditebang dan dialihfungsikan untuk tempat tinggal tanpa sadar bisa membahayakan manusia itu sendiri.


Saya jadi ingat satu buku yang sering saya bacakan sebelum Andrew tidur berjudul "Knuffel Bear" yang mengisahkan tentang beruang yang suka memeluk binatang hutan dan pepohonan. Saat seorang penebang liar hendak merusak hutan, beruang tersebut mengaum dan mengakut-nakuti si penebang tanpa hasil. Akhirnya dia memeluk si penebang dan berhasil membuatnya lari ketakutan. Intinya, si beruang menyelamatkan hutan dengan pelukannya. (Hm... ternyata tanpa sadar saya sudah sering bercerita tentang hutan kepada Andrew.) Dari situ saya bercerita pada Andrew kenapa hutan tidak boleh ditebang sembarangan walaupun kita (manusia) membutuhkan kayunya. Sekarang dia tahu kalau penebangan hutan sembarangan tanpa adanya penghijauan kembali bisa menimbulkan tanah longsor dan, tentu saja, global warming.

Pelajaran #2: Ikan dan Sampah

Hari ke-2 di Belitung, kami pergi snorkling. Andrew yang suka petualangan ikut serta. Karena belum berani menyelam dia melihat ikan-ikan dari kotak kaca yang dibawa adik saya. Kotak tersebut di pegang untuk memecah permukaan air laut sehingga Andrew bisa melihat ikan berenang diantara terumbu karang dan rumput laut. Sayangnya di tengah indahnya pemandangan, ada sebuah botol plastik yang terbawa ombak lewat di tengah-tengah kami. "Ma, ada sampah. Tempat sampahnya di mana ya?" Tanya Andrew spontan. Lah, di tengah laut mana ada tempat sampah?

Memang, saya selalu mengajarkan pada Andrew untuk membuang sampah pada tempatnya. Dia bahkan pernah memarahi seorang ibu yang membuang sampah di rumput. Saya jadi sedih kalau ingat laut-laut Indonesia yang indah seringkali sudah dicemari sampah. Pantai-pantai yang sudah komersil apalagi. Tidak ada bedanya sama jalanan di kota besar. Yang lebih parah, gara-gara menemani anak saya nonton film animasi kura-kura, saya jadi melihat sendiri bagaimana perjuangan seekor kura-kura membebaskan dirinya dari jeratan kantong plastik yang dibuang sembarangan oleh manusia. Atau bagaimana seekor gurita harus sembunyi dari minyak tumpah yang mengotori tempat tinggalnya. Miris banget jadinya. Moga-moga, laut yang indah ini masih bisa Andrew tunjukkan ke anak cucunya kelak.


Pelajaran #3: Panas vs Hujan

"Kenapa sih aku harus pake sunscreen terus, Ma?" Tanya Andrew saat untuk kesekian kalinya saya membuka tube tabir surya itu dan mengoleskannya ke badan dan mukanya sebelum kita keluar hotel.
"Soalnya panas. Nanti kulit kamu terbakar." Jawab saya.
"Gara-gara global warming ya?"

Iya. Gara-gara global warming, bukan hanya bumi saja yang rusak, tapi kita juga jadi kepanasan. Kulit bisa terbakar kalau tidak pakai tabir surya. Bisa dehidrasi kalau tidak sering minum. Semua hanya karena bumi ini jadi panas banget. Kayaknya, waktu saya kecil dulu, saya masih bisa keliling kompleks rumah naik sepeda tanpa topi, tanpa repot pakai sunscreen... sekarang, anak saya main sepeda di dalam rumah. Kalau mau keluar, harus pagi, sebelum pukul 9 atau sesudah pukul 5. Di luar itu, panasnya tak tertahankan. Demikian juga dengan Belitung. Angin pantai yang semilir tidak sanggup mengalahkan teriknya matahari.

Antara panas sekali begitu atau hujan tiada henti. Saya sekarang bingung kalau ditanya, "kita sedang musim apa, Ma?" Soalnya musimnya sudah tidak jelas lagi. Seharusnya sudah masuk musim panas pun, hujan masih datang tiada henti.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Saya selalu mengajarkan kepada Andrew untuk mulai dari hal kecil. Soal sampah misalnya. Selama di Belitung, saya kerap mengingatkan dia untuk tidak buang sampah sembarangan. Terutama jika kita berada dekat pantai. Soalnya agak susah bagi Andrew mengenali mana sampah yang dibuang manusia (botol kosong, plastik, kaleng soda, dll) dan mana 'sampah' yang datang dari laut (rumput laut, pecahan kerang, dll). Habis makan kelapa pun, semuanya harus kita bereskan kembali. Atau saat pergi ke tempat yang tidak seberapa jauh, kita sering jalan kaki berdua. Bisa juga dengan mendaur ulang karton bekas sereal dan botol bekas jus menjadi mainan. Kalau dipikir-pikir, banyak juga yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk bumi kita ini.

3 hari di sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari Jakarta sudah memberikan banyak pelajaran untuk Andrew dan untuk saya. Yang jelas, saya tidak boleh berhenti mengajarkan konsep peduli lingkungan pada anak saya. Terutama karena kami tinggal di kota besar yang dengan mudah bisa lupa dengan yang namanya hutan, pantai, gunung dan semua alamnya.

"Bye bye pulau. Kapan-kapan Andrew main lagi ya sama ikannya!"





No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.