22 March 2017

Travel Writing Secrets by Marischka Prudence

Saya selalu ingin punya blog khusus travel yang suatu hari nanti bisa jadi buku. Tapi maju mundur terus karena blog yang utamanya aja tidak terurus dengan baik. Lalu kemarin, demi menyemangati diri, saya ikut Arisan Ilmu KEB bersama Travel Blogger Marischka Prudence yang di akhir kisahnya curhat hal yang sama. Yang sulit itu memang konsistensi.

Well, saya senang ternyata saya tidak sendirian. Haha.




Lalu saya galau lagi, travel blog yang saya belikan domain berbayar itu maunya pakai bahasa Inggris. Tapi gimana ya? Kan pembaca saya juga kebanyakan orang Indonesia. Entah bagaimana, Prue, begitu biasanya travel blogger yang satu ini dipanggil, juga memberikan jawabannya. “Dengan menjadi spesifik, kita harus tahu apa yang kita lepaskan,” begitu katanya, tapi dengan tambahan yang melegakan hati karena kita juga mendapatkan something in return. “Blogging tentang traveling adalah berbagi kesenangan. Kalau kita berhasil membuat orang lain pergi itu juga berbagi kesenangan.”

Tapi, berbagi kesenangan juga bukan berarti asal cerita. Harus ada manfaatnya bagi orang lain. Karena itulah, Sabtu pagi kemarin saya duduk manis mendengarkan cerita Prue tentang travel writing. Where to start, what to do and how to make the most out of your journey. Who knows, you learn a new knowledge everytime.

19 March 2017

Cinta Negeri Dongeng di Beauty and The Beast

Percakapan ini terjadi di mobil kemarin sepulang nonton Beauty and the Beast.
Mama: Kalau jadi Disney Princess, Mama mau jadi Elsa atau Belle...
Dudu: Sleeping Beauty kali, Ma.


Lalu dia tertawa puas banget bisa jahilin saya. Asem emang anaknya. Semacam si Chip, cangkir teh yang tidak bisa berhenti ngomong itu. 




Welcome to Movie Monday, postingan yang bertekad untuk ngomongin film di hari Senin. Hari ini ceritanya tentang Beauty and the Beast yang kita nonton weekend kemarin. 

Beauty and The Beast (2017)
Starring: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad
Sutradara: Bill Condon
Durasi: 129 menit
MPAA Rating: PG (Indonesia 13+)

Coba simak versi Dudu berikut ini:
Beauty and the Beast bercerita tentang seorang pangeran yang dikutuk, dan semua yang hidup di sana berubah jadi barang antik. Suatu hari, kakek-kakek tersesat di hutan dan tak sengaja menemukan kastil pangeran terkutuk itu. Setelah malam berlalu, anaknya si kakek pun mencari dia di hutan dan menemukan si kakek dipenjara. Terus dia bertemu pangeran yang terkutuk dengan versi makhluk menyeramkan. Akhirnya pun dia bertukar tempat dengan si kakek. Dia mulai khawatir dengan ayahnya, dengan kehidupannya dan dengan apa yang akan terjadi. 
Akhirnya dia dipindahkan ke ruang bagus, punya makan malam dan dikasih berbagai hal dari pelayan-pelayan pangeran yang dikutuk. Si pangeran dan di gadis pun mulai berteman, dan setiap hari hubungan mereka berlanjut. Dan saat melihat keadaan ayahnya lewat cermin ajaib, si buruk rupa membiarkan dia pergi. Setelah mendengar cerita si cantik, penduduk desa pun takut dan mulai menyerang kastilnya. Si buruk rupa dan pelayan-pelayannya pun bertarung dengan penduduk desa, mereka pun menang. 
Tak lama kemudian si Belle kembali dan dia mematahkan kutukan kastilnya.

Fangirling dari Sudut Pandang Seorang Mama

Saya menyebutnya “gila karena idola”. Bukan hal baru karena 20 tahun lalu saya juga sibuk ngefans parah sama Backstreet Boys, yang berlarut-larut sampai kuliah saja maksa harus ke Amerika. Lalu ada F4, yang sempat membuat saya ganti selera, plus maksa kalau mudik itu transitnya pasti di Taiwan. Sekarang namanya “fangirling,” dan yang diikuti adalah artis Korea. Same phenomenon, same style, same effect. Ada positif, ada juga negatifnya, apalagi buat saya yang punya tugas tanggung jawab sebagai Mama Dudu.

Ketika mention-mentionan di Twitter berlanjut di Whatsapp dan akhirnya menetapkan Fangirling sebagai tema postingan bersama Vita Masli, saya jadi merenung. Di usia yang sudah mendekati 35 ini memangnya masih pantas fangirling ya? Hahaha. Well, just like how boys will be boys, I believe there’s a little girl in every woman. 


Baca postingan Vita Masli tentang Fangirling dulu dan sekarang


Positifnya:

Motivasi Belajar Bahasa Baru
Saya punya bucket list belajar 7 bahasa sebelum usia 30 dan di tengah kerja, ngurus anak dan lainnya saya lupa sama tekad yang satu itu. Sampai akhirnya saya jadi ELF yang putus asa dengan terjemahan di konser dan lelah menanti subtitle drama serta variety show. Apalagi setelah menyadari bahwa bias saya bahasa Inggrisnya hampir tidak ada. Apalah arti 4 jam seminggu dan 800rb/semester untuk bahasa baru yang memungkinkan saya komen di sosial media bias dan paham celetukan dia. Jadilah di usia ini saya ikut kursus Bahasa Korea dan sekarang sudah masuk level 2. 

Berharap yang mengajar bahasa Korea itu begini gurunya. 
(photo: My Korean Teacher movie)

12 March 2017

Doraemon and No-Parents Movie Playdate

Minggu ini saya dihadapkan dengan frustrasi absennya film bagus dari bioskop. Padahal Dudu sudah selesai ujian dan kita berharap ada film yang bisa kita saksikan bersama di bioskop. Ternyata, mengecek ke semua jaringan bioskop yang ada, tidak satupun menayangkan film yang rasanya akan disukai Dudu. Di tengah keputusasaan itu, saya melihat ada 2 bioskop XXI di Jakarta Utara yang menayangkan film Doraemon.

Surprise.


Bisa ditebak kita akhirnya berangkat ke sana, dan Dudu playdate perdana nonton bioskop hanya anak-anak kecil saja. Masih dengan gank playdate yang sama, anak-anak yang satu kereta ke Malang dan satu pesawat ke Singapura kemarin. Bioskopnya penuh, karena studio tempat Doraemon tayang termasuk kecil. Jadilah Dudu hanya nonton bertiga dengan dua temannya, anak-anak semua. 


Doraemon: Nobita and the Birth of Japan
Doraemon Nobita no Nippon Tanjō
Pengisi Suara: Nobuyo Oyama, Noriko Ohara, Michiko Nomura
Durasi: 100 menit

Movie Doraemon yang merupakan remake ini bercerita tentang Nobita yang hendak lari dari rumah. Hanya saja sekali ini dia tidak sendirian karena sahabat-sahabatnya: Suneo, Giant, Shizuka dan bahkan Doraemon juga memutuskan untuk lari dari rumah. Tidak menemukan tempat tinggal karena tanah di jaman ini sudah ada yang punya semuanya, mereka semua kemudian memutuskan untuk kembali ke masa lalu saat tanah belum ada pemiliknya dan bisa bebas digunakan untuk kabur dari rumah.

Eh tunggu, karena yang nonton film ini kan si Dudu ya, biar dia saja yang lanjutin.

13 February 2017

The LEGO Batman Movie

Sepanjang Minggu pagi, Dudu bernyanyi: "My best friend, you’re my best friends and friends are family, friends are family." 

Mama:Lagu apaan sih, Du?
Dudu: Lagu Batman Lego kemarin.
Mama: Filmnya bagus?
Dudu: Bagus kok.
*Lalu si Dudu mulai memperagakan adegan ketika Batman diberitahu Alfred bahwa dia sudah mengadopsi anak dan Dick Grayson sudah tinggal di Wayne Manor selama seminggu.





The LEGO Batman Movie ini dimulai dari keberhasilan Batman menggagalkan skema terakhir Joker dalam menghancurkan Gotham City dan meninggalkan si archenemy patah hati karena tidak diakui oleh sang superhero sebagai "musuh utama". Joker dan teman-temannya kemudian menyerahkan diri karena baper. Ceritanya tidak berakhir di situ karena setelah Joker dipenjara, Batman jadi bingung apa yang harus dia lakukan. Terlebih lagi ketika Komisaris Gordon pensiun dan digantikan putrinya, Barbara, yang sangat kompeten. Intinya Batman kesepian.

Robin: Wait, does Batman live in Bruce Wayne's basement? 
Batman: No, Bruce Wayne lives in batman's attic

06 February 2017

Vitamin C Penyelamat di Saat Harus Jadi Sehat

Musim hujan yang tadinya seperti ragu-ragu jadi yakin pasti mendung tiap hari sejak Imlek minggu lalu. Pokoknya tiada hari tanpa awan abu-abu bertengger mengikuti perjalanan saya. Hanya butuh 3 hari buat saya jadi demam dan tumbang, padahal pekerjaan kantor sedang demanding. “Makanya jangan lupa minum vitamin C,” begitu omelan Mama setiap kali di rumah ada yang bersin, batuk, bibirnya merah atau mulai terlihat tidak sehat.

Nasihat itu membuat saya berpikir kalau vitamin C adalah obat ajaib segala penyakit haha. Mungkin ada benarnya ya. Asupan dosis Vitamin C yang tepat memang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh dan menjaga elastisitas kulit. Lalu, bagaimana kita tahu sudah mengkonsumsi dosis yang tepat? Mama biasanya membekalkan suplemen vitamin pada saya.




Pilihannya ya CNI Ester-C Plus, yang mengandung dosis yang dianjurkan penelitian yaitu 625mg Ester C atau setara dengan 500mg Vitamin C. Dan menurut studi yang dilakukan para peneliti University of Michigan, dosis ini dibutuhkan bahkan bagi mereka yang mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin. Melihat rekomendasi jumlah sayur dan buah untuk konsumsi sehari-hari, saya sudah jelas jauh dari angka tersebut. Ada sayur dan buah di porsi makanan saya saja sudah untung. Maka dari itu, omelan Mama sebenarnya benar haha.

01 February 2017

Staycation at Double Tree Jakarta

Melewati gerbang masuk hotel ini seperti melewati pintu kemana saja milik Doraemon, yang dalam sekejap mengubah hiruk pikuk kawasan Cikini menjadi kedamaian ala private resort di Bali. Ini cerita staycation favorit kita. Welcome, to paradise, maksud saya, Welcome to Double Tree by Hilton Hotel Jakarta – Diponegoro.




Flashback beberapa tahun yang lalu, ketika Dudu dapat panggilan photoshoot majalah wedding, di sebuah hotel di Cikini. Serius nih? Ketika membayangkan Cikini, yang ada di kepala saya ya, TIM, Stasiun, Cikini Gold Center, Pasar Bunga dan Megaria. Sederetan coffee shop dan restoran Indonesia berderet di sepanjang jalan satu arah itu. Entah bagaimana, di tengah-tengah itu semua ada satu hotel bintang lima yang bersembunyi. Tidak heran kalau photoshoot cover majalah wedding pun dilakukan di hotel itu. Dan ketika saya mengantar Dudu bekerja itulah, saya jadi punya cita-cita mau staycation di hotel ini.

07 January 2017

New Year, Brighter Future

Saya memperhatikan Dudu yang sibuk mencatat. Ini anak ngapain ya? Tumben-tumbenan. Biasanya hanya saya yang sibuk menulis sementara dia main game, tapi hari itu dia tampak antusias menyimak dan mencatat apa yang disampaikan narasumber di sebuah acara ketemuan Blogger The Urban Mama berjudul Bright Future.


Lalu ketika saya menuliskan reportase ini, saya melihat-lihat kembali catatannya dan menemukan beberapa poin menarik tentang Kampanye yang diadakan Unilever ini. Tapi sebelum kita intip catatan super berantakan milik Dudu, coba kita menyimak apa kata para narasumber dulu.

KATA LANI
Acara yang merupakan kerjasama Unilever dan Blibli.com ini mengajak para Mama sebagai konsumen Unilever untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Caranya? Well, menurut Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com, para Mama ini menguasai 95% keputusan rumah tangga. “Para Mama punya power untuk memilih produk apa yang dibeli, yang digunakan oleh keluarga, jadi kenapa tidak mendukung bright future?” Di Bulan Desember kemarin Blibli.com berkampanye dengan Unilver dan setiap customer membeli produk tertentu, mereka ikut menyumbang Rp. 1000 untuk program bright future ini, termasuk membangun taman dan RPTRA. Jadi yang kemarin sempat kalap belanja kebutuhan rumah tangga macam Blueband dan Pepsodent pas Harbolnas bolehlah berlega hati sedikit karena bukan hanya spending tapi juga secara tidak sadar kita sudah helping out.