07 January 2017

New Year, Brighter Future

Saya memperhatikan Dudu yang sibuk mencatat. Ini anak ngapain ya? Tumben-tumbenan. Biasanya hanya saya yang sibuk menulis sementara dia main game, tapi hari itu dia tampak antusias menyimak dan mencatat apa yang disampaikan narasumber di sebuah acara ketemuan Blogger The Urban Mama berjudul Bright Future.


Lalu ketika saya menuliskan reportase ini, saya melihat-lihat kembali catatannya dan menemukan beberapa poin menarik tentang Kampanye yang diadakan Unilever ini. Tapi sebelum kita intip catatan super berantakan milik Dudu, coba kita menyimak apa kata para narasumber dulu.

KATA LANI
Acara yang merupakan kerjasama Unilever dan Blibli.com ini mengajak para Mama sebagai konsumen Unilever untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Caranya? Well, menurut Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com, para Mama ini menguasai 95% keputusan rumah tangga. “Para Mama punya power untuk memilih produk apa yang dibeli, yang digunakan oleh keluarga, jadi kenapa tidak mendukung bright future?” Di Bulan Desember kemarin Blibli.com berkampanye dengan Unilver dan setiap customer membeli produk tertentu, mereka ikut menyumbang Rp. 1000 untuk program bright future ini, termasuk membangun taman dan RPTRA. Jadi yang kemarin sempat kalap belanja kebutuhan rumah tangga macam Blueband dan Pepsodent pas Harbolnas bolehlah berlega hati sedikit karena bukan hanya spending tapi juga secara tidak sadar kita sudah helping out.

05 January 2017

3 Tempat Seru Karoke Akhir Tahun

Rasanya setiap tahun baru saya selalu pergi karaoke. Tahun ini, karena Dudu dibawa pergi adik saya ke Surabaya, saya jadi mencari kegiatan sendiri dan karaoke ada di urutan teratas to-do list saya. Pertanyaanya tetap: di mana? Google search (believe it or not) tidak membawakan hasil yang memuaskan. Beneran nih, tidak ada yang menulis tentang tempat karaoke recommended? Jadilah, Jumat-Sabtu-Minggu kemarin saya pergi bersama seorang teman, mencoba beberapa tempat karaoke di Jakarta, well, Selatan. 


JUMAT
Inul Vista Plaza Semanggi

Harga Room Small: Rp. 125,000/jam sudah termasuk tax n service

LIKES: Lagunya cukup lengkap. Buat saya yang kalau karaoke selalu Kpop dan Jpop, Inul ini koleksi lagunya lumayan. Ruangannya bersih, lebih bersih daripada beberapa Inul Vista yang pernah saya kunjungi. Lalu lampunya terang, jadi pas foto hasilnya keren haha. Lokasinya di Mall, jadi tidak perlu memikirkan parkiran. Ada penanda waktu di sudut kanan atas jadi mudah untuk tahu bisa nyanyi berapa lagu lagi.





DISLIKES: Mesinnya sempat macet dan harus di-restart. Jadi kita sudah hilang 10 menit di awal. Lalu harganya termasuk mahal dibandingkan yang lainnya. Ruangannya dingin, soalnya pas kita masuk baru AC dinyalain (ditanya suhunya lalu kita yang salah prediksi) dan meski sudah bilang di keatasin saja, sama petugasnya tetap di swing. Jadinya kita agak kedinginan. Masih menggunakan remote tradisional jadi kadang saat mencari lagu, tulisan yang muncul menutupi teks karaokenya.

25 December 2016

The Courage to Sing

Tidak seperti Trolls dan Moana yang memang sudah ditunggu dan langsung berhiaskan review, Sing adalah film yang, well, sederhana. Menjadi yang terakhir dari sederetan film kartun dengan musik catchy untuk ditonton bersama anak, Sing adalah teman pengisi liburan yang seru. But, this is a long overdue movie review. 


Peserta audisi (photo taken from screenrant)
Ceritanya adalah seputar Buster Moon, seorang Koala yang mengelola teater hampir bangkrut. Moon kecil terpesona dengan dunia yang ditawarkan oleh teater dan bertekad memiliki pertunjukkannya sendiri. Namun di awal cerita kita sudah melihat bahawa Moon gagal mewujudkan mimpinya. Jadi, dia hadir dengan ide briliant membuat audisi penyanyi dari seluruh kota sebagai pertunjukkan terakhir yang mempertaruhkan segalanya.

23 December 2016

Monetized, Optimized and the Powerful Change of Social Media

Tujuan saya punya Facebook adalah biar bisa keep-in-touch sama teman-teman tanpa harus pusing dengan mengirim email dan bertukar kabar. Semuanya ada di timeline. Tujuan saya punya Twitter adalah, well, menuliskan pemikiran spontan yang akan nyampah kalau saya jadikan status Facebook. Sekarang saya kesulitan mempertahankan apa yang saya sebut sebagai idealisme saya karena sosial media (termasuk Facebook) sudah mengalami perubahan fungsi.

Sekarang sosial media itu alat cari uang dan sarana membangun image. "Sosial media bisa mengubah nasib seseorang," kata Ani Berta, blogger, influencer dan well, idola saya di dunia digital sebelah situ haha. "The Power of Social Media" merupakan tema bahasan kita di workshop sekaligus kumpul-kumpul blogger bareng CNI di Burger King Pasar Festival, Minggu, 18 Desember kemarin. Untungnya meskipun sosial media berubah, tidak ada yang berubah dari bercandaan dan gelak tawa blogger yang hadir. Sama ramainya kok dengan timeline twitter saya di jam itu. 


Kalau sudah ngumpul jadi seru. (photo by CNI)

19 December 2016

8 Teori Blogging dari Belajar Menulis Fiksi

“Bagaimana jika ideku sudah ada yang buat?” Pertanyaan yang terlontar di workshop menulis cerpen yang diikuti Dudu di Festival Pembaca Indonesia di Museum Nasional minggu lalu ini membuat saya ikutan garuk-garuk kepala. Soalnya saya sering merasa begini sepulangnya dari undangan event blogger dan mempersiapkan draft untuk ikutan lomba blog. Ada yang senasib?


Sebelum saya bercerita panjang lebar tentang 8 teori menulis fiksi yang saya “curi” untuk blogging, ada sedikit background story tentang #DateWithDudu hari itu. Festival Pembaca Indonesia diselenggarakan 2 hari, tanggal 10 dan 11 Desember di Museum Nasional Jakarta. Selain workshop yang berhubungan dengan menulis dan membaca, ada beberapa kegiatan lain yang tidak kalah menariknya seperti Bioskop Baca, launching buku, bookswap, blind date with book dan lainnya Yang unik, di sini bukan jualan buku. Kalau mau dapat buku baru ya bawa buku bekas untuk ditukarkan.

(Baca juga: Cerita dari Big Bad Wolf Book Sale)

Dua workshop berbeda (Saya ikutan Workshop “Tembus Dapur Fiksi Femina” dan Dudu ikutan “One Day to Write” di Pojok Anak) yang menimbulkan satu pertanyaan di benak saya: Can we apply this to blogging?

Ternyata kita bisa belajar dari Fiksi. Ini caranya.

12 December 2016

Menang Pesona Sisterhood dan Langkah Keluar dari Zona Nyaman

Define friendship. Thanks to Pesona, saya jadi berkesempatan pergi seharian dengan tiga sahabat saya. Tiga orang ini saya temukan karena Dudu berteman dengan anak-anak mereka, dan sering bertemu di tempat lomba. Awalnya “saingan”, akhirnya jadi teman playdate. And when we outgrew the competitions, we become best friends in life. 



Ketika “geng” kami terpilih sebagai salah satu pemenang Pesona Sisterhood, saya keluar dari rutinitas dan zona nyaman. Kok bisa? Pesona Sisterhood adalah ajang kompetisi bertema persahabatan yang diadakan 2x setahun oleh majalah Pesona. Begitu jelas Zornia Harisantoso, Editor-in-Chief Pesona, di tengah makan siang kami di Cheesecake Factory/Almond Tree Cikini. Kompetisi ini diadakan di sosial media, di mana kita bisa mengirimkan foto bersama sahabat untuk memenangkan one-day pampered trip. Buat ibu bekerja seperti kita, yang namanya makeover, jalan-jalan, makan dan shopping ini memang kesempatan langka.

05 December 2016

Moana, Bukan Sekedar Disney Princess

Sepertinya Disney senang membuat kejutan di bulan Desember. Setelah Frozen, yang baru saya tonton setelah Dudu mulai menyanyikan lagu Let it Go, sekarang ada Moana. Kalau dulu Elsa dan Anna datang dari negara berselimut salju di Eropa Utara, Moana datang dari pulau tropis di Polinesia. Yang saya senang dari kedua princess (tiga kalau Anna dihitung) ini adalah tujuan hidupnya bukan untuk cari pangeran tambatan hati tapi mengembalikan kedamaian dan harmoni.



Moana
Starring (Voice): Auli'i Cravalho, Dwayne Johnson
Director: Ron Clements, John Musker
Duration: 1 jam 43 menit
MPAA Rating: PG


Moana adalah seorang putri kepala suku Motunui yang dibesarkan dengan cerita rakyat dan dongeng leluhur oleh neneknya. Setelah menyelamatkan seekor anak kura-kura, entah bagaimana Moana jadi terobsesi dengan pergi le lautan luas. Sayangnya, sang ayah tidak mengijinkan. Namun nasib berkata lain karena ikan-ikan mulai menghilang dan pohon kelapa mulai membusuk, sehingga Moana nekat pergi ke lautan untuk mencari ikan.
Orang tua Moana
Nenek Moana yang mengatakan bahwa perannya adalah sebagai
"the village's crazy old lady."
Penyebab hilangnya ikan dan busuknya kelapa adalah keseimbangan dunia yang terganggu, sesuai dengan legenda yang diceritakan oleh nenek Moana. Alkisah jaman dahulu kala ada seorang dewi bernama Te’Fiti yang menjadi sumber kehidupan. Namun seorang manusia setengah dewa bernama Maui mencuri jantung Te’Fiti dan hal tersebut mengganggu keseimbangan alam. Jadi sekarang lautan memilih Moana untuk mencari Maui dan mengembalikan jantung Te’Fiti. Ternyata perjalanan menyelamatkan dunia tidak semudah bayangan Moana.

“If anyone asked whatever just happened, you can always blame it on the pig,” si Nenek yang menjadi supporter utama Moana kembali ke lautan ini jadi idola si Dudu. Namanya juga nenek, pasti sayang cucunya haha. Tapi tokoh kesukaan Dudu ya Maui, “kadang-kadang dia lucu.” Tokoh kesukaan saya? Well, saya bilang ke Dudu kalau saya mau jadi Te’Fiti. Sebar-sebar pohon dan rumput habis itu tidur siang. Atau jadi ayam super clueless bernama Heihei yang hobinya makan batu. 


Moana mengajarkan “jangan resist apa yang kamu mau lakukan. Maksudnya jika kamu mau melakukan sesuatu tapi dilarang, lakukan saja.” Lah, gawat dong, Du? “Ya Moana kan begitu?” Memang sih. Kalau dipikir-pikir ada 3 hal yang saya pelajari dari menonton film berdurasi hampir 2 jam itu.

Mengejar passion bukan hanya modal nekat.
Well, kadang memang kita perlu intervensi pihak ke-3 dalam menemukan passion kita. Dalam cerita Moana ada laut dan si Nenek yang jadi kompor sekaligus pembimbing Moana untuk berlayar ke lautan lepas. Kalau hanya modal nekat melewati batas lautan dengan kapal kecil, tentu saja kita akan tergulung ombak dan tenggelam.

Tapi nekat dalam bentuk keberanian itu juga perlu.
Tapi kita sendiri pun harus punya keberanian untuk mengejar passion kita itu. Apa jadinya kalau Moana yang sudah punya perahu malah ciut nyalinya? Atau Maui yang sudah pernah kalah sekali sama Te’Kai tidak berani maju lagi menghadang monster lava itu.



Kemauan untuk belajar harus ada.
Moana tidak bisa berlayar, tidak bisa baca bintang dan tidak tahu banyak tentang lautan. Meskipun bukan nol sama sekali, karena toh dia bisa berenang dan memanjat, tapi dia pantang menyerah dan mau belajar banyak dari Maui dan tidak melulu teriak-teriak minta tolong sama laut.

By the way, Maui itu kalau di Cerita Rakyat Polinesia kurang lebih sama seperti Loki, a trickster god. Moana sendiri artinya “laut”. Heihei artinya “lari” sementara Pua itu artinya bisa macam-macam mulai dari “mekar” hingga “pucuk tebu.” Saya sudah terobsesi dengan Polinesia, terutama Hawaii dan sekitarnya gara-gara Lilo & Stitch.

Banyak anak kecil yang nonton film ini. Ada yang menangis begitu lampu digelapin, ada yang sibuk panik bertanya sama orang tuanya, “Ma, Moananya kenapa, Ma?” Ada juga yang minta ganti tayangan TVnya, “kita nonton bola aja.” Lah? Hahaha. Ada teaser Beauty and the Beast! Film yang konon sangat dinantikan semua orang di 2017. Lalu ada Sing yang sekilas mirip Zootopia bertemu audisi The Voice.

Ketika saya menantikan Assasin’s Creed, Disney memutuskan untuk menayangkan sebuah animasi pendek tentang pentingnya take a break dari rutinitas hidup dengan menyeimbangkan hati yang senang hura-hura dan otak yang maunya terus bekerja. Kalau diingat jaman kuliah di negara seberang dulu, bulan Desember itu identic dengan family time, shopping, lagu-lagu Natal dan comfort food. Memandangi salju turun dari jendela apartment dan bersantai dari segala rutinitas. Makanya animasi ini pas untuk menegur saya yang masih sibuk berkutat dengan yang namanya Hari Belanja Online Nasional.

Moana, too, is about finding a way to your passion and not letting a temporary anger trick you to do otherwise. Let’s enjoy life! It’s December afterall!

30 November 2016

Switchable (Super) Hero: Mudahnya Bertukar Hobi dan Profesi

Berubah. Di kepala saya, kata itu hanya milik Power Rangers dan Ksatria Baja Hitam. Atau mungkin juga Ultraman. Sehari-harinya bolehnya berprofesi macam-macam, mulai dari murid SMA hingga tim SAR. Tapi kalau passion menyelamatkan dunia muncul, langsung switch, berubah, jadi sosok yang dapat diandalkan untuk 10 menit terakhir episode hari itu. Inginnya sih, dalam kehidupan nyata, saya juga bisa begitu. Bisa berubah. Switchable Me.

Sekilas Acer Switch Alpha 12 (photo by AcerID)
Nyatanya, profesi ya harus dilakukan saat weekdays jam 8 sampai 5 atau 9 sampai 6 (tergantung seberapa pagi saya bangun) dan hobi tergeser ke pinggiran kalender alias weekend. Dulu, hobi saya jadi profesi. Saya termasuk beruntung bahwa saya bisa kuliah di jurusan yang saya sukai, bekerja di bidang yang sejalan dan mendapatkan pengalaman. Lalu saya jenuh. Hobi yang jadi profesi ternyata malah membunuh passion saya. Jadi, well, saya menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan dunia saya sekarang, dunia seorang ibu.

Sekarang saya seorang content strategist yang urusannya lebih banyak tentang digital promotion. Menulis sudah kembali jadi hobi, plus karena ini kerja kantoran dengan jam kerja tetap, saya jadi bisa jalan-jalan sama anak yang sudah mulai besar itu. Lalu dengan anak mulai besar, saya jadi ada waktu untuk diri sendiri lalu bisa mengerjakan hobi-hobi yang lain: travelling dan belajar bahasa asing. Hobi saya banyak ya. Haha. Lalu apa hubungannya semua itu dengan sebuah notebook.


Ringan dan ada kickstand-nya (photo by AcerID)