19 September 2016

7 Tempat Seru Untuk Menulis Selain Di Cafe

Ketika kopi menjadi salah satu kebutuhan utama ketika ngeblog, saya jadi berpikir apakah tempat mempengaruhi mood? Coffee shop kerap menjadi pilihan para penulis, apalagi ketika writer’s block melanda dan membutuhkan pergantian suasana. J.K. Rowling menulis Harry Potter di The Elephant House, sebuah coffee shop di Edinburgh. Lalu saya yang blogger ini biasanya menulis di mana?

Mau ngetik di mana, Ma?
Biasanya bukan hanya saya yang nongkrong, cari wifi dan minuman, tapi si Dudu juga. Kalau saya buka laptop dan mengetik, Dudu biasanya mengerjakan PR dan belajar ujian. Kalau belajar sudah selesai dia akan nonton Youtube atau main minecraft . Jadilah, kalau ngedate kami berdua harus mencari tempat yang pas dimana saya bisa mengetik dan Dudu bisa melakukan aktivitas lain tanpa merasa bosan menunggu saya menyelesaikan tulisan. Ternyata ada beberapa tempat dimana, selain ganti suasana, kita juga bisa dapat inspirasi baru.

18 September 2016

Kejujuran Kecil Seorang Mama

Dudu pernah bilang kalau “orang dewasa itu sering mengancam tapi bohong. Soalnya tidak benar-benar dilaksanakan.” Tulisan yang dibuatnya ketika mengikuti lomba menulis Aku Berani Jujur yang diadakan KPK itu membuat saya berpikir ulang untuk setiap ucapan yang saya lontarkan pada Dudu. Jangan sampai karena kebohongan-kebohongan kecil saya sebagai orang tua membuat Dudu sulit mempercayai apa kata orang dewasa, dan lebih parahnya menganggap bahwa ketidakjujuran adalah hal biasa.

Tulisan Dudu di Lomba Menulis "Aku Berani Jujur"
Dunia anak-anak itu simple dan jujur. Karena itulah, saya merasa sebagai orang tua, saya harus bisa menjaga tradisi kejujuran yang ada. Saya ingin membesarkan anak yang berani bilang "aku anak jujur". Seperti kata Pak Yoyo dari KPK di sebuah talkshow bertajuk “Membesarkan Anak Jujur” yang saya hadiri bersama Dudu beberapa waktu lalu, “yang penting kita sendiri jujur dulu.” Dari bangku talkshow itu, saya jadi menetapkan aturan jujur bagi diri saya sendiri. Kejujuran kecil yang saya lakukan, karena dampaknya bisa besar bagi tumbuh kembang Dudu kelak dan hubungan kami berdua. 

Kejadian kemarin malam: 
Dudu: Mama kok tidak tanya nilai aku? 
Mama: Oh iya hari ini kamu correction ujian ya. Dapat berapa? 
Dudu: Bahasa Indonesia aku second best. 
Mama: Yah… kok cuma second? 
Dudu: Mama tidak bangga ya? 
Mama: Nggak. Soalnya second best doang. Mana itu kan Bahasa Indonesia. Pelajaran paling gampang. 
Trus si Dudu sedih. Jahat amat nih Mamanya. Tapi dia tahu saya jujur. Kalau memang buat saya itu bukan prestasi ya kenapa harus obral pujian. 

12 September 2016

The Right Mixture For Your Ever-Changing Skin

“Kebanyakan pasien saya menggunakan produk bayi, karena berpikir bahwa produk tersebut aman unutuk bayi, apalagi untuk saya,” kata dr. Eddy Karta, seorang Dermatalogist Expert di acara launching IOMA awal September lalu di Lippo Mall Puri. Lha, saya juga pernah curi-curi pakai sabun si Dudu, hanya karena seorang teman melontarkan nasehat yang sama saat melihat wajah saya yang kering. 


Tapi tunggu sebentar, kenapa saya mendadak bisa duduk mendengarkan nasihat tentang kulit wajah di akhir pekan? Ceritanya begini.

Pertemuan saya dengan IOMA yang sedang launching itu tidak sengaja. Tidak sengaja lewat selepas nge-date sama Dudu, tidak sengaja duduk dan tidak sengaja kenal sama yang sedang duduk. Yang ada jadi kopdar blogger di sore hari, dengan Dudu duduk di belakang kita sambil sesekali menyimak penjelasan si dokter tentang kulit. Dan gara-gara acara inilah saya juga untuk pertama kalinya mencoba skin test, menggunakan alat bernama Sphere 2 dari IOMA.

“Sphere 2 mengukur 7 dimensi kulit, memfoto kulit dengan 5 lighting berbeda yang disebut macro multispectral imaging,” jelas General Manager IOMA Indonesia, Miranti Burhan. Karena menggunakan 2 sensor, maka kulit yang sedang tertutup make-up pun bisa mendapatkan hasil skin check yang akurat. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata kulit saya tidak kering, hanya terlalu banyak kulit matinya. To be honest, I was ready for the worst. Soalnya saya bukan tipe yang rajin merawat kulit meski bukan tipe yang dandan ketika keluar rumah.
Setelah Skin Check ada penjelasan juga tentang kulit.
Talkshow yang seru tentang kulit
Si dokter yang ceplas ceplos dan mengundang tawa itu kemudian menjelaskan bahwa setelah usia 28 tahun, kulit mulai kering dan epidermis megelupas sekitar 5-6 minggu sekali. “Biasanya ditandai dengan kulit kering setelah pemakaian produk, padahal di minggu-minggu sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Masalahnya, kita sering gagal move on dari satu jenis produk terutama krim dan pelembab muka karena takut mencoba yang baru akan membawa efek tidak menyenangkan untuk kulit wajah. Padahal kulit kita berubah, jadi kita juga harus berubah.”

Saya sudah mempraktekan teori tersebut dengan shampoo. Gara-gara waktu itu pergi konsultasi ke satu klinik kecantikan dan dibilang kena seboroik di kulit kepala, saya jadi coba-coba sendiri. Kalau shampoo A sudah membuat kulit kepala kering dan gatal, saya segera ganti merk. Meskipun tidak seampuh shampoo racikan dokter, tapi cukup membantu permasalahan saya. Tapi itu kan rambut ya.

Anyway, back to nasihat si dokter, sebaiknya kita yang sudah dewasa menghindari sabun bayi karena kulit bayi basa sementara kulit kita asam. Selain itu, jangan langsung berasumsi kulit Anda berminyak karena kulit kering memproduksi minyak berlebih untuk mempertahankan kelembabannya. Jadi, sebaiknya menggunakan pelembab di malam hari sebelum tidur karena pada saat tidur itu biasanya kita tidak minum dan cairan jadi berkurang.

Masalahnya, kondisi ini berbeda pada setiap orang.

Ini yang namanya Ma Creme
Produk IOMA bukan hanya Ma Creme tapi ada banyak rangenya
Hasil skin test saya dilengkapi dengan rekomendasi Ma Crème yang sebaiknya digunakan. Ma Crème adalah produk unggulan IOMA yang diracik sesuai kebutuhan kulit setiap individu. Terdiri dari 3 serum hidrasi dan 5 serum regenerasi, Ma Crème ini dapat membentuk lebih dari 40 ribu kombinasi racikan untuk kebutuhan kulit yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk krim siang dan krim malam. Hal ini penting menurut Miranti karena kulit yang berubah berarti masalah yang berganti. “Misalnya pada awal cek masalahnya adalah kelembaban, lalu setelah sekitar 3 bulan pada saat krim habis dan cek ulang, masalahnya ada pada kecerahan kulit. Jadi rekomendasinya belum tentu sama karena keadaan kulit berubah.”

Menarik. Dudu juga sempat tertarik dengan campuran-campuran yang menurutnya seperti percobaan ilmiah itu. Ternyata #DateWithDudu kali ini membawa kejutan tersendiri, termasuk kecerewetan Dudu (yang menurut dia dikategorikan sebagai “perhatian seorang anak”) supaya saya tidak malas merawat wajah. Iya sih, masa kulit saya kalah mulus sama zombie di film Train To Busan?

P.S. Thanks to Dudu yang sudah dengan sabar menemani saya skin check dan talkshow. 

10 September 2016

Mencari Waktu Untuk Diri Sendiri

Sebagai seorang full-time Mama yang waktunya habis untuk kerja dan nge-date sama anak, saya paling bingung kalau ditanya soal “Me Time”. Hah? Apaan tuh? Jadi, ketika tema hari terakhir One Day One Post Challenge dari Fun Blogging mengajak saya menuliskan Me Time favorit, saya tidak tahu mau menulis apa. 

Baca buku sambil dengerin musik juga bisa jadi Me Time (Photo by Dudu)
Hasil browsing menunjukkan definisi yang bervariasi, mulai dari menyediakan waktu untuk diri sendiri hingga melakukan hal yang mengurangi stress agar siap beraktivitas kembali. Me Time tidak melulu berarti sendirian, ada yang bilang berkumpul bersama teman, ngobrol, makan dan nonton bioskop bisa jadi Me Time. Me Time favorit saya apa ya? Baca buku sudah tidak bisa karena buku yang saya baca kebanyakan misteri jadi harus diselesaikan kalau tidak malah jadi kepikiran. Blogging juga sudah berevolusi jadi hobi yang menghasilkan, berarti saya memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga. Nonton film kebanyakan sama anak. Lalu?

04 September 2016

Train To Busan, Sebuah Film Zombie yang Berkesan

Kita selalu berpisah jalan ketika Dudu sibuk dengan zombie dan T-virus, sementara Mama setengah mati berusaha mengerti itu boyband K-pop menyanyi lagu apa. Minggu ini keduanya bergabung jadi satu di Train to Busan.

Menyaksikan trailer film ini ketika nonton Detective Conan, kita berencana nonton di Sweetbox lagi. Jadilah malam Minggu kemarin kita kembali ke Slipi Jaya untuk ngedate. “Aku harap film ini ada subtitle bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kalau tidak aku tidak tahu mereka bicara apa.” Lha sama juga dengan Mama.


Train to Busan bercerita tentang seorang single dad (Gong Yoo) yang mengantarkan putrinya (Kim Soo Ahn) untuk bertemu sang ibu. Perceraian mereka, di mata si anak, adalah karena sang ayah terlalu sibuk bekerja hingga melupakan keluarganya, termasuk kebahagiaan si anak. Bahkan pada awalnya, untuk mengantarkan si anak ke Busan pun, ayahnya tak ada waktu. Perjalanan dengan kereta yang seharusnya hanya 1 jam itu berubah jadi seharian plus pertarungan melawan zombie yang tanpa sengaja naik ke gerbong kereta dan menginfeksi semua orang.

Jajanan Pasar, Rasa Yang Diwariskan.

Waktu kecil saya picky eater. Lupakan sayur dan Buah (kecuali mangga dan durian), saya karnivora yang lebih memilih daging sebagai lauk. Tapi kalau soal mengemil, saya ratunya. Dan ternyata beberapa kue jajanan pasar kesukaan saya menurun ke Dudu. 


Dudu waktu kecil semangat makan kue lapis 
Yang namanya jajanan pasar itu sesuatu buat saya, yang meskipun bukan fans masakan tradisional seperti opor dan soto, tapi fans berat jajanan tradisional. You name it, I’ve tried it. Dan salah satu misi saya sekarang adalah meneruskan “rasa” ini pada Dudu yang mukanya bule. Kalau kelak dia kembali ke negaranya, dia tidak lupa sama jajanan Indonesia. Kan Barrack Obama juga bisa cerita bakso, sate dan nasi goreng, masa Dudu yang tinggal lebih lama tidak bisa cerita lebih banyak. Memangnya apa sih yang dimakan?

02 September 2016

Nonton Meitantei Conan di Sweetbox CGV

A lot of good guys and a lot of bad guys, but there's only one truth. FIlm Detective Conan tahun ini serunya berlipat ganda karena tokohnya muncul semua. Setelah menunggu sekian lama, saya dan Dudu akhirnya nge-date juga nonton Conan sekalian mencoba Sweetbox di CGV Slipi Jaya yang ternyata recommended juga kalau nonton berdua anak. 


Filmnya dibuka dengan adegan kejar-kejaran seru antara anggota organisasi hitam yang kepergok mencuri data NOC, FBI (diwakilkan Shuichi Akai) dan PSB (diwakilkan si Bourbon alias Tooru Amuro). Si anggota organisasi berhasil melarikan diri tapi mengalami amnesia dan kemudian ditemukan Conan dan kelompok detektif ciliknya yang sedang berwisata ke Tohto Aquarium. Data yang dicuri si anggota organisasi sampai ke bos mereka dan mengakibatkan 3 orang NOC tewas dan 2 lagi (Kir & Bourbon) di ujung tanduk. Belum lagi untuk mengambil kembali anggota mereka yang diamankan polisi, Gin dan Vermouth menanam bom di ferris wheel Aquarium Tohto.

31 August 2016

Ayo Ikut Belanja Seru di Ikea Indonesia

Hej!

Jauh sebelum tulisan itu terpampang di pintu masuk IKEA Indonesia, saya pernah melihatnya di kertas surat dari sahabat pena pertama saya jaman SMA yang berasal dari Malmö, Swedia. Setelah hampir 10 tahun hilang kontak, kami bertemu lagi di media sosial dan tiga huruf itu kembali muncul di hadapan saya. I truly missed talking to her, like I missed walking through the aisle of IKEA. Buat saya, keduanya membawa kembali kenangan masa lalu saya, yang tertinggal di belahan bumi sebelah sana. 



Saya dan Andrew sudah merencanakan mau ke IKEA Indonesia berdua, sarapan meatball lalu belanja. Tapi Andrew keburu pergi duluan dengan orang tua saya (yang waktu itu sudah super tidak sabar mau ke IKEA 
Indonesia), sementara saya baru kesampaian berbulan-bulan kemudian ketika ada talkshow rumah ramah anak dari The Urban Mama. Kata orang "there's a will, there's a way," jadi pada suatu pagi saya berhasil pergi ngedate sama Dudu ke IKEA Indonesia.

Varför? Kenapa?
Ini adalah 5 itinerary kita di IKEA Indonesia